JJP -Jalan-jalan Penting-

Baca blog ini bikin saya pengen komen kalo saya agak kurang setuju dengan pemikiran pak Made. Saya suka sebagian besar pemikiran beliau. Saya suka cara dia memotivasi orang walaupun agak pedas. Menurut saya jalan-jalan ke luar negeri memang menarik. Penting juga karena membuat kita belajar dari banyak orang yang kita temui sepanjang perjalanan. Belajar bahasa baru. Belajar kebudayaan baru. Belajar bahwa hanya dengan naik pesawat 5-6 jam kita tiba-tiba berubah dari mayoritas menjadi minoritas. Tapi selain keajaiban-keajaiban itu, saya tetap tak bisa menyangkal bahwa selain jalan-jalan ke luar negeri, jalan-jalan di negeri sendiri pun tak kalah penting dan seru.

Berkat tulisan pak Made ini saya jadi ingat pengalaman saya waktu kuliah di Jogja dulu. Seru! Walaupun bukan jalan-jalan ke luar negeri, saya jadi tau bahwa Indonesia itu indah. Bahwa hidup di Indonesia itu enak. Jalan-jalan di negeri sendiri membuat saya merasa punya bekal (yang walaupun tidak bisa dibilang banyak) bisa saya bawa ketika saya hidup di lain negara.

Bagi saya Jogja adalah kota yang istimewa. Selain menjadi kota dimana saya bertemu dengan suami, kota ini membuat saya punya banyak saudara. Para sahabat yang sama-sama merantau hingga membuat teman lebih dari sekedar teman. Kota ini membuat teman berubah menjadi saudara. Saudara-saudara ini yang mengajarkan saya untuk menghargai kegiatan yang disebut jalan-jalan. Travelling kalo bahasa gaul masa kini. Not the fancy one -of course-.

Dengan budget pas-pasan kami maju ke Dieng, mencolek Borobudur, menikmati panasnya matahari di Prambanan, main air di Pantai Krakal, “pesta bujang” di Karimun Jawa, jalan-jalan ke Blitar, menyambangi Purworejo dan naik ke Bromo dengan berbekalkan cahaya dari handphone. Ajaib, memang. Kami sangat ajaib. Saya bersyukur 7 tahun yang lalu saya melakukan itu semua. Pengalaman-pengalaman menarik yang belum tentu saya bisa lakukan hari ini.

Dari banyaknya jalan-jalan itu, yang paling berkesan bagi saya adalah perjalanan kami ke Bromo. Agak nekat sih kalo boleh dibilang. Uang gaji (yang tak seberapa itu) hasil kerja paruh waktu ternyata cukup membiayai perjalanan Jogja-Blitar-Bromo-Jogja. Saya ingat betul saya ga ngecek waktu tempuh ke Bromo itu berapa lama. Dimana kami akan menginap. Apa transportasi yang bakalan saya pakai. Pokonya berangkat aja. Hahaha.. gila.

Saya ga ingat berapa kali saya naik kereta api ekonomi jarak jauh. Mungkin hitungan jari. Dan ternyata yaaa, kereta api ekonomi jarak jauh itu ajaaaiiiib. Mulai dari pasangan baru nikah yang asyik-asyikan dalam kereta yang berjejalan. Berasa mereka yang punya, dan kami yang nebeng. Saya juga baru ngeh, bahwa dalam kereta api ekonomi, kardus itu barang mewah. Buat apa? buat duduk di lantai! Jangan bayangkan kereta api ekonomi yang sekarang, kereta api ekonomi 6 tahun yang lalu belum ber AC. Belum ada kuota maksimal. Yang penting punya tiket boleh masuk kereta. Desak-desakan sudah pasti dan kalau keinjek ga boleh marah :p

Dari Blitar, perjalanan dilanjutkan dengan bis antar kota yang disambung dengan colt. Saya ingat betul, supir colt menyetir mobilnya sambil sms-an. Kanan kiri jurang. saya sibuk baca doa, dia sibuk baca sms. Belum lagi setiap ada penumpang yang turun dan kebetulan membawa belanjaan yang banyak, dia akan berhenti dan membantu membawakan belanjaan penumpang tersebut. Amazing memang. Kami sampai di Bromo siang hari. Masih sempat jalan-jalan, foto-foto dan makan baso. Eh yang makan baso saya sendiri deng, yang lain cuma ngeliatin saya makan baso. Pas tukang basonya pergi, mereka ketawa ngakak. Menurut mereka, baso yang saya makan adalah baso babi. Suku Tengger asli menganut agama Hindu dan mereka tidak makan sapi karena sapi dianggap sebagai hewan suci. Saya cuma nyeletuk “buat ukuran baso babi, yang tadi itu kurang enak”, walopun dalam hati ketar ketir juga. Pegimana ini kalo itu baso babi beneran. Semoga bukan ya Allah… kalo beneran babi, maaf ya Allah..

Bromo1

Malam-malam kami bertekad untuk bangun jam 3 pagi dengan harapan bisa melihat sunrise dari puncak Bromo. Kesiangan? ngga. Semua bangun tepat waktu. Cuma ngga ada yang bawa senter aja. Lha gimana caranya jalan dari penginapan ke puncak Bromo tanpa ada penerangan yang cukup? jawabannya pake HP. >.<

Somehow, we did it!!! Terima kasih HP!

Bromo 2

Kalau Mada sudah kuliah nanti, semoga dia tahu bahwa bukan cuma IPK yang penting, tapi cara dia menghabiskan masa mudanya juga tak kalah penting. Petualangan gabisa didapat dengan cara menekuri buku setiap malam tanpa pernah keluar rumah. Bahwa hidup yang seimbang adalah hal yang penting. Bahwa rajin jalan-jalan bukan berarti membuat kita tidak mampu memiliki IPK 3.89 😉

Sampai saat ini saya tak tahu ada berapa banyak malam yang saya habiskan di angkringan. Ada berapa malam yang saya naungi di perjalanan. Di dalam kendaraan yang bergerak senantiasa mengantarkan saya dari satu tempat ke tempat yang lain. Saya bersyukur saya mengalaminya. Walaupun mungkin, bila saya juga bisa memutar waktu seperti yang pak Made inginkan juga, saya juga mau ke luar negeri. back packer-an. Kok kayaknya asyik. Sekarang juga masih mau. Tapi melirik gebolan unyil berumur 3 tahun, dan suami yang kurang cocok sama backpacker style, sepertinya keinginan untuk jalan-jalan pelit hemat belum bisa terpenuhi dalam waktu singkat.

Kalau Mada sudah agak besar, saya punya cita-cita untuk mengajak ia jalan-jalan. Backpacker style tentunya. Semoga ada kesehatan, ada rejeki dan ada waktu. Aamiin.

Advertisements

4 Comments

Add yours →

  1. mudah2an keinginannya bisa terwujud

  2. pujangga mawar berduri June 3, 2016 — 10:40 pm

    Teman2nya kayaknya asyik tuh.. siapa namanya yg fotoin? Kyknya pinter dan ganteng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

katapunyaku

katakukenaparupanya

Syukriy Abdullah

Berbagi Demi Kehidupan yang Lebih Baik

Anthusiasm..

is my mid name!

%d bloggers like this: