Ibu dan bekerja

Topik emak yang bekerja emang ga ada habisnya ya untuk dibahas. Pro dan kontra akan selalu ada. Sebagai emak yang rajin loncat perusahaan, saya punya satu kesimpulan; bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan di kantor maka (biasanya) kompensasi yang diberikan semakin besar pula, baca:gaji, tunjangan, fasilitas, etc. Memang ada beberapa pengecualian. Tapi di Indonesia, yang saya lihat, pada umumnya semakin tinggi jabatan akan semakin tinggi juga jam kerjanya. Kenapa? karena pemberi kerja akan semakin demanding. Ibarat kata “lha elu uda gw kasi gaji gede, masa jam 5 uda pulang”, kira-kira begitu.

-Again, ini menggambarkan kondisi pada umumnya, mungkin ada beberapa orang yang bilang, nggaaa tuh, gaji gw 23 juta sebulan. Pulang mah tenggo. Ya anggap aja anda beruntung lah yah-

Kenapa saya mengupas tema ini?
Gara-gara si saya yang ceritanya mengejar passion untuk menjadi dosen. Ceritanya dari jaman jadi auditor dulu, saya ngebet pengen jadi dosen. Tapi karena profesi dosen mengharuskan (minimal) bergelar master, saya ketar-ketir nyari beasiswa. Kuliah udah beres, langsung apply jadi dosen dong. Kan passion ya ceritanya..

Tapiii.. Ketika mengejar sesuatu yang berjudul passion ini, saya lupa bahwa kompensasi yang diberikan di dunia perdosenan tidak sebesar kompensasi yang diberikan di industri. Pendapatan turun drastis. Lalu sedih. Lalu kembali melirik industri. Hahaha.. Emak labil. Itu kalau dilihat dari kompensasi materiil ya. Tapi, kalo dilihat dari kompensasi waktu, profesi dosen ini -bagi saya- tidak ada duanya. Waktu jauh lebih fleksibel ketimbang kerja di industri. Kebetulan karena status saya masih LB (dosen luar biasa), saya hanya ke kampus ketika ada jadwal mengajar. Sisanya?maen sama Mada sampe puaaas. Plus mengurus rumah tangga karena saya gapunya IRT.

Kalo kata orang, ngerjain passion itu menyenangkan. Indeed. Saya suka mengajar, saya suka bila mahasiswa di kelas aktif plus saya menikmati seluruh prosesnya. Sewaktu kerja di industri, saya tidak suka yang judulnya lembur. Apalagi kalau harus kerja di weekend. Bisa manyun tiada tara. Nah ketika menjadi dosen, kadang saya harus masuk di hari sabtu untuk mengganti hari libur, atau mengajar sampai jam 21.30 karena harus mengajar kelas ekstensi. Terus manyun ga? alhamdulillah ngga manyun 🙂

Jadi dosen juga bukan berarti bekerja ketika mengajar di kelas. Dosen juga harus membuat materi, browsing artikel atau jurnal yang mendukung bahan ajar, itu semua dilakukan di rumah. Kadang subuh pas Mada masi bobo, atau sekalian larut malam ketika Mada sudah bobo. Kalo Mada masih melek, niscaya, ga bakalan beres itu power point >.<

Cuma ya, yang namanya ngerjain passion bukan tanpa tapi loh. Ngerjain passion bukan berarti uang akan mengikuti passion-nya. Realistisnya, ada yang dikorbankan ketika kita mengejar passion. Terus terang dalam 2 bulan terakhir ini saya masih galau mana yang harus dipilih, pilih gaji atau pilih waktu luang yang kabarnya sih lebih berharga dibandingkan uang. Tapi tetep dong yah, mau ngajak jalan atau ke toys kingdom sekarang mah mikir-mikir dulu. Ada gitu wacana ke Mada yang bilang, “Mada, ata belum punya uang, tunggu gajian boleh yah?” 😀 dan Mada kecil pun menganggukan kepalanya sambil bilang “ooh, is that for later? Is it expensive ata?” saya cuma nyengir aja kalo dia uda bilang gitu.

Galau antara pindah industri atau tetep di kampus terus berlangsung sampai 11 hari yang lalu, Mada dirawat di rumah sakit karena infeksi paru-paru. Pnemonia. Penyebabnya?alergi udara/debu/asap rokok. Sementara dia sakit, saya bersyukur karena punya waktu yang cukup untuk merawat Mada. Pas kontrol kemarin, dokternya tanya, Mada dirumah sama siapa bu? Dan dengan mantap saya bisa bilang, “sama saya dok!”. Si dokter bilang, “bagus bu kalo sama ibunya, ini ya bu yang harus diperhatikan buat anaknya”. Dengan semerta-merta saya bersyukur memilih profesi dosen untuk saat ini.

image

Ada kalanya kita tidak bersyukur sampai Tuhan menegur kita lewat ujian dan cobaan. Mungkin saat ini materi di industri bukan jawaban atas kegundahan hati saya, tapi rasa syukur dalam hati yang harus diperbaiki.

“Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban” (Q.S.55:55)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Advertisements

9 Comments

Add yours →

  1. semuanya memang ada hikmahnya ya… memang apapun yang telah Allah beri, harus kita syukuri. Semoga Mada selalu sehat ya…

  2. Selalu suka pembahasan dg ibu bekerja n tidak bekerja,..,

  3. Mada sakit to mba 😦 owalaaah kok bisa kena Pneumoni. GWS dear Mada!
    Apapun itu smua disyukuri pasti ya Mba, waktu untuk keluarga memang ga bisa dibandingkan dengan materi sebanyak apapun.
    Go mba Cuwi, bekerja dimana passion kita berada itu pasti lebih menyenangkan mba 😉
    Quote yg slalu kuinget “To be successful, the first thing to do is fall in love with your work.
 – Sister Mary Lauretta”
    Hugs n kisses buat Mada ya mba! 😉

  4. nikmati dan syukuri…. ada gaji, byk waktu luang, dan orang2 sekitarpun berbahagia….

  5. Apapun itu yg penting emang pilihan kita ya

  6. mba, bisa minta kontak emailnya?? saya mau tanya tentang study di UQ

  7. Hidup memang memberikan pilihan dg risiko dan konsekuensinya masing2 yaa.
    Tp semua akan indah pada waktunya ya.
    Rasa cukup kadang bukan terpenuhinya apa yg kita mau tp hati yg merasa cukup.
    Semangat mak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

katapunyaku

katakukenaparupanya

Syukriy Abdullah

Berbagi Demi Kehidupan yang Lebih Baik

Anthusiasm..

is my mid name!

%d bloggers like this: