Hedonic Treadmill

Niat suci perjalanan bandung jakarta kali ini adalah meriksa quiz anak-anak yang terbengkalai. Tapi kok males ya..kebayang pengin cepetan sampe biar masi sempet fitness.
Guilty feeling menghantui karena kemarin sempet ga fitness selama 5 hari.

Udah lama banget saya ingin nulis tentang hedonic treadmill. Saya tau istilah ini setelah membaca salah satu artikel di blog seseorang. Kalau boleh disimpulkan hedonic treadmill adalah keadaan dimana kita tidak pernah puas untuk mengejar materi tidak peduli seberapa banyak uang yang kita habiskan untuk mendapatkan materi tersebut. Hal ini disebabkan karena seiring dengan meningkatnya pendapatan seseorang maka akan semakin tinggi juga ekspektasi dan keinginan orang tersebut. Contoh, pertama kali saya kerja, saya mendapatkan gaji sebesar 500,000 per bulan. Happy? Iya dong. Dari yang asalnya punya 0 rupiah bisa berubah menjadi 500ribu rupiah. Lumayan bisa traktir nasi kucing temen-temen. Bisa nangkring asyik di angkringan tanpa takut ga punya uang buat bayar nasi kucing. Intinya, gampang banget dibuat happy..

Sekarang, saya ga mau dong dapat gaji 500,000. Karena selain biaya hidup saya naik, ekspektasi saya juga naik. Makan di angkringan masih ok kok, tapi pengen juga bisa makan di restoran. Kenapa begitu? Wajar. Karena dengan gaji yang lebih banyak, dulu yang rasanya gak mungkin jadi mungkin terbeli. Sekalinya nyoba enak, penasaran, ada yang lebih enak ga yah?
Contoh lain, pernah ga merasa waktu pas kuliah jaman s1 dulu ada tempat makan yang selalu kita datangin karena rasanya enak, harganya murah. Saya sih ada. Dulu warung burjo andalan sebelah kosan merupakan tempat penyelamatan pertama dari bahaya kelaparan. Yang dimakan cuma nasi yang pera’, sarden, plus telor goreng pake sambel. Kemarin-kemarin saya balik lagi ke warung burjo itu. Kangen sama rasanya yang seingat saya rasanya amazing abis. Ternyata saya harus kecewa dengan rasanya. Jauh banget dari rasa yang saya ingat. Jadi selain tempat makan, standar enak lidah saya juga naik rupanya.

Sampai sini jelas dong yah, mengapa ketika pendapatan kita naik, ekspektasi dan keinginan kita juga bertambah banyak.

Lalu dimanakah letak hedonic treadmill ini bersumber? Sumbernya adalah keinginan kita dan ekspektasi kita bertambah terus menerus. Sehingga semakin kita mengejarnya, semakin kita tidak merasa puas dengan apa yang kita miliki. Mekanisme ini ada dalam treadmill. Bukan berarti ketika kita berlari di treadmill selama satu jam kita bisa sampai di tempat yang kita inginkan. Kita tidak kemana-mana. Hanya lari di tempat. dari situlah muncul istilah hedonic treadmill.

Penelitian menunjukkan bahwa, sampai dengan titik penghasilan tertentu, uang memegang peranan yang penting dalam kebutuhan manusia. Tetapi setelah titik tersebut terlewati, maka kontribusi uang terhadap kebahagiaan seseorang akan semakin menurun. Bahkan mendekati titik nol. Hal ini sejalan dengan hukum ekonomi, law of diminishing return. Sederhananya kita bisa analogikan hukum ini dengan apa yang terjadi ketika kita minum air dingin disaat kita tengah kehausan. Gelas pertama tingkat kenikmatannya akan kita beri nilai 9/10. Lalu karena masih haus, gelas kedua masih terasa nikmat sehingga kita beri skala 9.5/10. Gelas ketiga kenikmatan air dingin tersebut berkurang, maka kita beri nilai 8/10. Gelas berikutnya bisa kita beri nilai negatif karena kita minum terlalu banyak sehingga membuat perut kita sakit.

Dari penjelasan di atas, jelas sudah bahwa terkadang pada saat ini kita terjerat dengan mahluk yang berjudul materi. Tak ada puasnya. Sisi positifnya, ini akan memicu kita untuk berkarya lebih baik lagi. Sisi busuknya, kita akan terjebak pada kebahagiaan semu. Hedonisme. Yang tidak akan bisa kita hentikan kecuali kita sendiri yang menghentikannya. Caranya? bersyukur adalah salah satu cara yang memaksa kita turun dari hedonic treadmill.

Salah seorang teman saya yang cukup sukses di usia muda pernah berkata bahwa menggantungkan kebahagiaannya pada materi, persis seperti minum air laut ketika sedang haus. Dahaganya tak akan pernah hilang seberapapun banyaknya air laut yang masuk ke kerongkongannya.

Maka, walaupun mudah untuk diucapkan mulut, tetapi sulit untuk diucapkan dengan ikhlas, mari perbanyak syukur karena sesungguhnya Allah akan menambah nikmat orang-orang yang bersyukur.

5 maret 2016
P.S. tulisan ini dibuat sebagai pengingat disaat lupa. Pencerah di saat terlena dengan sibuknya kehidupan mengejar materi.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Iya ya kepuasan duniawi itu rasanya gak akan habis2nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s