Bau Kematian

Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam, seraya memejamkan matanya. “I smell death”, ucapnya perlahan. Lima menit kemudian terdengar suara jeritan sahut menyahut. Seorang anak terkapar di tengah jalan. Tabrak lari. Wanita tadi menyeka keringat yang menetes di dahinya. Ia membuka tas merah yang sedari tadi ia apit, mengambil botol minum dan meneguknya perlahan.  Entah berapa puluh kali ia mencium…

Destiny (Part 3)

Cerita sebelumnya “Next week, we will going to Springbrook National Park as a field trip. Please check your Blackboard and ensure to bring all of the items on the list. We will join with Griffith and QUT student. Thank you for attending today’s lecture. See you next week!”. Mark mengakhiri kuliah kali ini dengan pengumuman…

Destiny (part 2)

Destiny part 1 “Mana bisa saya nikah sama orang tukang bohong kayak dia!, gabisa. Jadi saya putusin aja”, masih teringat jelas perkataannya sebelum aku berangkat ke Brisbane untuk meneruskan kuliahku. “Halaaah, paling-paling kamu balikan lagi sama dia. Kayaknya udah ga keitung deh berapa kali kalian putus nyambung kayak gini”, ucapku sinis. “Dasar kamu!. Skeptis. Ga…

Destiny

Gambar diambil dari http://www.greaterspringfield.com.au Dia sudah menikah.. kucubit tanganku keras-keras. Meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi. Dia sudah menikah, aku bergumam lagi. Air mata mengalir deras, akhirnya aku jatuh terduduk di stasiun kereta. Kakiku terlalu lemas untuk menopang badanku. “Platform 2, Springfield Train will be arrived in 2 minutes. All passengers should be stand behind yellow line”,…

Chapter 2 (First Part) –Wanita Berparuh Burung-

Teng..teng..teng.. sayup-sayup terdengar bunyi jam berdentang di kejauhan. Aku mengerjapkan mataku, berusaha melihat sekeliling dalam kegelapan. Cahaya lampu jalanan bisa kulihat melalui jendela, tapi tidak terang. Aku bisa melihat Ibu dan si kucing masih terlelap. Kuputuskan untuk tidur lagi. Perutku merintih pelan, kupandang perut kurusku, kuusap pelahan untuk meredakan rasa perih karena lapar. Aku tertidur…

Chapter 1 -moving- #theendofchapter1

previous chapter Kami tak sadar mata tersebut mengikuti kami dengan seksama sampai akhirnya aku melihat mata itu menyala di kegelapan. Aku terbelalak, menghentikan langkahku karena mata itu semakin mendekat. “meow..”, seekor kucing putih menyeruak dari semak-semak. Ibuku mendekati kucing itu kemudian mendekapnya bagai sahabat lama. “Hai kucing kecil, kamu kedinginan ya?. Kami juga. Ayo tidur…

chapter 1 -moving-

Rumput basah yang kupijak meninggalkan bekas pada sepatu jelekku yang berwarna abu-abu. Kami terus berjalan melintasi gedung tua yang berlumut. Entah mengapa hari ini kami tak kunjung mendapatkan makanan sedikit pun. Biasanya ada saja orang dengan hati emasnya yang mau memberikan kami sedikit roti, tak jarang mereka membawakan kami setermos teh hangat. Musim dingin kali…

Promises

“I hate you!” kubanting pintu mobil sekeras mungkin, berlari sampai masuk ke dalam rumah tanpa menolehkan kepala kepada si empunya mobil. Phew, I hope it was good enough to convince him that I really want to break up. Kuintip dari jendela dan sedan merah itu masih berada di tempat yang sama, tak beranjak sedikit pun…